Gubernur Koster: AI Tak Boleh Menggantikan Kecerdasan Budaya

A
Ditulis oleh Admin
Diterbitkan pada 11 September 2026
Sedang Mendengarkan
Gubernur Koster: AI Tak Boleh Menggantikan Kecerdasan Budaya

 Dorong Bali Jadi Laboratorium Lingkungan Binaan Berbasis Teknologi, Budaya, dan Keberlanjutan

DENPASAR — Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) harus berjalan beriringan dengan kecerdasan manusia dan kecerdasan budaya.

Menurutnya, teknologi harus menjadi instrumen untuk memperkuat nilai, identitas, tradisi, dan karakter masyarakat. Pemanfaatan AI juga tidak boleh menghilangkan keharmonisan hubungan manusia dengan alam.

“Kecerdasan buatan tidak boleh menggantikan kecerdasan budaya. Justru kecerdasan buatan harus ditempatkan sebagai instrumen untuk memperkuat kecerdasan manusia dan kecerdasan budaya,” tegas Gubernur Koster.

Pernyataan tersebut disampaikan Gubernur Koster saat membuka Temu Ilmiah Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia (TI IPLBI) ke-14 di Aula Gedung Pascasarjana Universitas Udayana, Denpasar, Jumat (4/9/2026).

Dalam kegiatan yang mengusung tema “Kecerdasan Budaya untuk Lingkungan Binaan Berkelanjutan: Kecerdasan Buatan, Konteks Lokal, dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan” tersebut, Gubernur Koster juga hadir sebagai pembicara utama atau keynote speaker.

Teknologi Harus Berpijak pada Karakter Bali

Gubernur Koster mengatakan prinsip keseimbangan antara teknologi, kecerdasan manusia, dan kecerdasan budaya menjadi semakin penting dalam pengembangan lingkungan binaan Bali.

Hal tersebut sejalan dengan berbagai tantangan pembangunan ke depan, mulai dari perkembangan teknologi yang pesat, perubahan iklim, hingga ancaman bencana.

Karena itu, pembangunan Bali harus tetap berpijak pada karakter dan jati diri Bali sebagaimana diarahkan dalam Haluan Pembangunan Bali 100 Tahun 2025–2125.

Haluan tersebut menempatkan keberlanjutan Alam Bali, Manusia Bali, dan Kebudayaan Bali sebagai bagian penting dalam arah pembangunan jangka panjang.

Gubernur Koster juga menekankan pentingnya nilai-nilai Sad Kerthi sebagai landasan etis dan ekologis dalam pengembangan lingkungan binaan Bali.

Dengan pendekatan tersebut, pembangunan tidak hanya mengejar kemajuan fisik. Pembangunan juga harus menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan kebudayaan.

“Modernisasi berbasis kebudayaan bukan kembali ke masa lalu, tetapi membawa nilai-nilai terbaik masa lalu untuk menjawab tantangan masa depan,” ujarnya.

Dorong Riset Arsitektur Bali dan Subak

Gubernur Koster secara khusus mendorong perguruan tinggi dan para peneliti untuk terus menggali pengetahuan lokal Bali.

Arsitektur Tradisional Bali dan sistem Subak, menurutnya, merupakan contoh pengetahuan lokal yang memiliki nilai penting untuk dikembangkan melalui riset, inovasi, dan pemanfaatan teknologi.

Pengetahuan tersebut dapat menjadi sumber inspirasi dalam membangun lingkungan binaan yang sesuai dengan konteks lokal sekaligus mampu menjawab tantangan masa depan.

Karena itu, Gubernur Koster meminta hasil penelitian tidak berhenti pada publikasi ilmiah.

Riset diharapkan dapat diterjemahkan menjadi solusi konkret, seperti prototipe, desain, standar, kebijakan, teknologi, hingga model pembangunan yang dapat diterapkan di masyarakat.

“Bali 100 Tahun bukan hanya proyek pembangunan. Bali 100 Tahun adalah proyek peradaban,” tegasnya.

Bali Didorong Jadi Laboratorium Lingkungan Binaan

Pengembangan lingkungan binaan Bali juga diarahkan agar semakin tangguh dan adaptif terhadap perubahan iklim serta bencana.

Pada saat yang sama, pembangunan harus bergerak menuju lingkungan yang hijau, rendah karbon, dan berkelanjutan.

Untuk mewujudkannya, Gubernur Koster menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, peneliti, arsitek, perencana, dunia usaha, desa adat, masyarakat, dan generasi muda.

Kolaborasi tersebut diharapkan membangun ekosistem inovasi yang mampu mempertemukan kemajuan teknologi dan AI dengan kebudayaan serta pengetahuan lokal.

Dengan pendekatan tersebut, Bali diharapkan dapat berkembang menjadi laboratorium pengembangan lingkungan binaan masa depan. Laboratorium tersebut tidak hanya menguji teknologi, tetapi juga memastikan teknologi tetap sesuai dengan karakter budaya dan prinsip keberlanjutan.

TI IPLBI Ke-14 Hadirkan Beragam Agenda

Ketua Panitia TI IPLBI ke-14, Prof. Ni Ketut Agusintadewi, mengatakan Temu Ilmiah IPLBI menjadi ruang untuk mempertemukan berbagai perspektif, gagasan, hasil penelitian, dan praktik mengenai masa depan lingkungan binaan.

Menurutnya, TI IPLBI ke-14 diarahkan untuk mendorong kolaborasi antara teknologi, lokalitas, dan budaya secara kontekstual dan saling melengkapi.

Rangkaian kegiatan berlangsung selama tiga hari, 3–5 September 2026, dengan berbagai agenda.

Kegiatan tersebut meliputi seminar nasional, masterclass fenomenologi dan AI, workshop, lomba fotografi, penerbitan buku, serta field trip arsitektur.

Prof. Ni Ketut Agusintadewi berharap penyelenggaraan TI IPLBI ke-14 dapat memperkuat kapasitas dan jejaring akademik. Forum tersebut juga diharapkan melahirkan penelitian dan praktik lingkungan binaan yang berkualitas, inovatif, dan berkelanjutan tanpa kehilangan karakter lokal.

Turut hadir Ketua IPLBI Periode 2024–2027, Dr. Ir. Susilo Kusdiwanggo, bersama para peneliti, akademisi, arsitek, perencana, praktisi, dan peserta TI IPLBI ke-14.

Ditulis oleh Admin • Diterbitkan pada 11 September 2026